Pada Zaman Tersier (Kala Oligosen, ±27 juta tahun lalu), wilayah Bandung masih berupa laut dangkal yang membentang dari Rajamandala hingga Pelabuhan Ratu. Bukti fosil terumbu karang purba ditemukan di kawasan karst Citatah dan Rajamandala.
Aktivitas vulkanik besar pada Kala Pleistosen (±500.000 tahun lalu) membentuk Gunung Sunda purba, yang kemudian runtuh menjadi Kaldera Sunda — cikal bakal Cekungan Bandung. Pada masa yang sama terbentuk Patahan Lembang yang membentang dari Cisarua hingga Gunung Manglayang.
Sekitar 125.000 tahun lalu, letusan Gunung Tangkuban Parahu membendung sungai Ci Tarum purba, menciptakan Danau Bandung Purba (Situ Hyang) yang membentang dari Cicalengka hingga Padalarang. Danau ini akhirnya surut melalui celah Cukang Rahong dan Curug Jompong sekitar puluhan ribu tahun kemudian.
Manusia Purba: Tahun 2003 ditemukan 4 fosil kerangka Homo sapiens utuh di Gua Pawon (utara Padalarang), diperkirakan berusia 9.000 tahun — bukti bahwa Cekungan Bandung telah dihuni sejak zaman prasejarah.
Wilayah Bandung dan sekitarnya berada di bawah pengaruh Kerajaan Tarumanagara (abad V-VII), kemudian Kerajaan Sunda (Pajajaran, abad VII-XVI). Prasasti yang ditemukan di daerah Cikapundung dan sekitar Gunung Padang menunjukkan adanya pemukiman dan aktivitas perdagangan pada masa itu.
Setelah runtuhnya Pajajaran (1579), wilayah Priangan termasuk Bandung dikuasai oleh Kesultanan Mataram pada abad XVII. Mataram melakukan ekspansi ke Priangan dan menempatkan bupati-bupati sebagai penguasa lokal. Sistem ini kemudian diwariskan ke VOC dan Hindia Belanda.
Sejarah resmi Kota Bandung dimulai pada 25 September 1810 ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan besluit (surat keputusan) pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke lahan kosong di tepi Sungai Cikapundung — yang kini menjadi pusat Kota Bandung. Tanggal ini diperingati sebagai hari jadi Kota Bandung.
Bupati Bandung ke-9, R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829), memainkan peran sentral dalam keputusan ini. Namun proses pemindahan dipercepat oleh Daendels yang membutuhkan pos militer di jalur pos Anyer-Panarukan.
Bandung berkembang pesat setelah jalur kereta api Batavia-Bandung selesai pada 1884. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Bandung sebagai pusat administrasi dan militer, membangun Gedung Sate (1920), Institut Teknologi Bandung (sejak 1920), dan berbagai gedung art deco yang membuat Bandung dijuluki Parijs van Java (Paris dari Jawa).
Tahun 1926, Bandung menjadi ibu kota Hindia Belanda untuk sementara; rencana pemindahan ibu kota dari Batavia ke Bandung sempat digagas namun terhenti oleh Perang Dunia II dan pendudukan Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Bandung menjadi medan pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan tentara Sekutu (Inggris) yang datang bersama NICA Belanda. Pada 23 Maret 1946, ultimatum Sekutu memerintahkan rakyat Bandung untuk meninggalkan kota bagian selatan.
Peristiwa heroik Bandung Lautan Api terjadi ketika para pejuang dan penduduk sengaja membakar kota bagian selatan sebelum meninggalkannya, agar tidak dimanfaatkan oleh musuh. Api membubung, langit Bandung memerah — simbol perlawanan yang dikenang dalam lagu Halo-Halo Bandung.
Kolonel Abdoel Haris Nasution, Muhammad Toha, dan para pejuang lainnya memimpin pertempuran ini. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Bandung mencatatkan namanya dalam sejarah dunia sebagai tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955. Bertempat di Gedung Merdeka (sebelumnya Gedung Concordia), konferensi ini dihadiri oleh 29 negara Asia dan Afrika yang baru merdeka.
Diprakarsai oleh Presiden Soekarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Perdana Menteri Burma U Nu, dan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Ali Bogra — KAA melahirkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip dasar hubungan antarnegara yang menjadi fondasi Gerakan Non-Blok.
Dasasila Bandung antara lain menekankan: penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan dan integritas teritorial, persamaan ras dan bangsa, penyelesaian sengketa secara damai, serta kerja sama internasional. Momentum ini menempatkan Bandung sebagai Ibu Kota Asia-Afrika dan simbol solidaritas negara-negara Selatan.
Pada tahun 2000-an, Bandung bertransformasi menjadi pusat ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia. Kota ini ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia oleh UNESCO dalam kategori desain (2015), mengakui ekosistem kreatif yang meliputi fesyen, musik, film, kuliner, dan seni rupa.
Kawasan seperti Dago, Braga, Cihampelas, dan Jalan Asia-Afrika menjadi ikon pariwisata. Bandung juga dikenal sebagai pusat fesyen factory outlet, kuliner khas (surabi, batagor, mie kocok, peuyeum), dan komunitas kreatif yang dinamis. Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) terus menjadi pusat pendidikan dan riset nasional.
Tantangan modern meliputi kemacetan, urbanisasi, banjir, dan pelestarian bangunan bersejarah — namun semangat Bandung Ma'mun (Bandung Sejahtera) terus diupayakan oleh warganya.
Bandung melahirkan banyak tokoh nasional: Soekarno (menempuh pendidikan di ITB), Hatta, Sjahrir, komponis Ismail Marzuki (Halo-Halo Bandung), dan penulis Pramoedya Ananta Toer yang pernah belajar di sana. Seniman kontemporer seperti Barli Sasmitawinata dan musisi Bambang Sutejo (Kunto Aji) juga memperkaya budaya Bandung.
Warisan arsitektur kolonial dan art deco menjadikan Bandung museum hidup. Gedung Sate, Villa Isola, Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann, dan kawasan Braga adalah contoh arsitektur campuran Eropa dan lokal yang langka. Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari tetap lestari di tengah pergaulan urban yang multikultural.
Julukan Bandung: Parijs van Java (Paris dari Jawa), Kota Kembang, Kota Kreatif Dunia (UNESCO), Ibu Kota Asia-Afrika, Bandung Juara, Kota Pendidikan.